Nama : Sri Hartati
Jenis Usaha : Warung (sembako)
Alamat : Baledono Singodranan, Purworejo
Pendidikan terakhir : SMK Sri hartati, lahir di Purworejo tahun 1979. Dia adalah lulusan dari sekolah menengah kejuruan dengan mengambil jurusan akuntansi. Sekarang dia bekerja sebagai seorang wirausaha (pedagang) dan mempunyai sebuah warung yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari (sembako). Latar belakang usahanya adalah dimulai dari ayahnya, H. Kaelani (alm) yang dahulunya adalah seorang pedagang keliling yang menjual dagangannya dari warung satu ke warung lain. Karena banyak dagangan yang masih tersimpan dalam rumah (gudang) yang belum dikelilingkan, maka beliau berinisiatif membuka sebuah warung, untuk menjual dagangan tersebut. Motif dari beliau membuka warung juga tidak lain adalah untuk menambah penghasilan karena beliau juga butuh biaya untuk anak-anak dan keluarganya. Modal yang dibutuhkan beliau saat itu bukan dari modal yang besar (uang/materi), saat itu beliau mengambil dagangan dari toko terlebih dahulu (stok barang), kemudian mengadakan perjanjian dengan toko tersebut dengan melunasi barang-barang tersebut apabila dagangan sudah terjual (jatuh tempo). Dengan memutarkan dagangan, beliau akhirnya mulai mendapatkan hasil. Warung beliau mulai mengalami kemajuan dan berkembang, sehingga beliau tidak lagi menjadi pedagang keliling. Setelah beliau meninggal, usahanya dilanjutkan oleh anaknya, Sri Hartati (faktor warisan/keturunan). Daripada mencari pekerjaan susah, ia melanjutkan usaha ayahnya yang sudah ada, sehingga dijadikannya usaha pokok dan akhirnya berkembang sampai sekarang. Rata-rata penghasilan perharinya dikatakan lumayan karena bisa mencapai angka diatas Rp 100.000,00. Warung tersebut telah berdiri selama 20 tahun sampai sekarang ini.
PROFIL II
Nama : Abdurrahman Rais
Jenis Usaha : Jual Beli Emas
Alamat : Baledono Singodranan, Purworejo
Pendidikan terakhir : SMA
Abdurrahman Rais, lahir di Purworejo pada 28 november 1989. Dia adalah seorang mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purworejo jurusan Pendidikan Matematika semester 1. Dia sekarang berwirausaha jual beli emas. Latar belakang dia berwirausaha adalah untuk membantu orang tua nya yang juga sebagai seorang wiraswasta, selain itu dia juga ingin hidup mandiri (belajar berwirausaha). Motif lain di membuka usaha juga keinginan dia untuk mencari penghasilan sendiri dan rencana jangka panjang dia ke depan. Modal yang dibutuhkan dia untuk membuka usahanya bukan dari modal uang yang besar, melainkan dari kepercayaan orang tua nya yang memberikan perlengkapan yang dibutuhkan untuk usaha tersebut. Proses transaksi usahanya adalah dari konsumen yang menjual emas kepada dia kemudian dia jual lagi emas tersebut kepada pengepul emas. Keuntungan yang dia dapat dari harga jual yang lebih tinggi dibandingkan harga beli emas tersebut dari konsumen. Sehingga rata-rata perharinya dapat mencapai angka di atas Rp 50.000,00. Namun kesulitan dari usaha ini adalah salah spekulasi dia saat transaksi dengan konsumen yang mengakibatkan harga jual lebih rendah dari harga beli. Usaha ini telah dia tekuni selama 1 tahun sampai sekarang.
http://blog.math.uny.ac.id/andy666/2010/01/18/profil-wirausaha/
Label
- 1 profil saya (1)
- 2 profil wirausaha (5)
- 3 Product (5)
- 4 Price (5)
- 5 Promotion (5)
- 6 Place (5)
- 7 People (5)
- 8 physical evidance (5)
- 9 Proses (5)
Tampilkan postingan dengan label 2 profil wirausaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2 profil wirausaha. Tampilkan semua postingan
Jumat, 15 Oktober 2010
Herpin Dwijayanti
Usianya baru 24 tahun. Meski begitu, Herpin Dwijayanti sudah mengukir prestasi di bidang bisnis pendidikan. Dengan modal awal 300 ribu, kini Herpin memiliki usaha sendiri dengan membuka kursus delapan bahasa di beberapa tempat Bandung. Sudah lama Herpin bercita-cita menjadi pengusaha. Makanya, semasa bersekolah, Herpin banyak bersosialisasi dan membuka jaringan dengan banyak orang. Dia pun aktif berorganisasi. Dengan memegang tekad ingin menjadi pengusaha, sewaktu sekolah, Herpin tekun belajar sehingga terpilih sebagai remaja berprestasi. Dari sejak SD sampai kuliah di STT Telkom Bandung, berkali-kali Herpin meraih prestasi membanggakan. Di antaranya: Juara III Pelajar Teladan SLTP Se-Jawa Barat [2000], Juara II Lomba Mengarang Bahasa Jepang Tingkat Nasional [2004], Juara I Mahasiswa berprestasi Tingkat Kopertis Wilayah VI [2008], dan Finalis Wirausaha Mandiri Nasional [2009]. Itu baru sebagian. Masih banyak prestasi lainnya, baik prestasi akademis, lomba, penerima bea siswa, dan peserta pertukaran pelajar antarnegara.
“Mungkin saya cenderung orang yang akademis, ya. Tapi saya juga gaul dan aktif berorganisasi. Orangtua saya memang mendidik saya ketat dan disiplin. Saya juga banyak belajar dari luar. Saya juga senang mengenal momen atau kegiatan islami. Kalau belajar bisnis, saya berusaha mencontoh Rasulullah dalam berwirausaha,” ujar kelahiran Depok 8 April 1986 ini.
Berkat mau belajar dari mana saja, Herpin pun ingin mewujudkan cita-citanya sebagai pengusaha. Kebetulan Herpin sangat meminati bidang bahasa. Herpin aktif menguasai bahasa Inggris dan Jepang dan pasif dalam berbahasa Perancis, Arab, dan Jerman. Karena itulah dia memutuskan untuk berwirausaha dengan membuka kursus bahasa.
Herpin memang punya bekal penguasaan bahasa sebelum dia menjadi mahasiswa STT Telkom. Sewaktu SMA, dia terpilih menjadi peserta pertukaran pelajar ke Jepang [2005-2006]. Dia pun beberapa kali mengikuti debat dan pidato dalam bahasa Inggris. Pengalaman tersebut menjadi bekalnya untuk mengajar kursus bahasa di sebuah lembaga. Karena lembaga ini tutup, Herpin pun nekat membuka tempat kursus sendiri dengan modal pas-pasan. “Modal awalnya hanya 300 ribu rupiah dari tabungan sendiri. Alhamdulillah, Allah memberi kelancaran mendapatkan modal tambahan dari hadiah lomba-lomba. Saya membuka kursus mulai tahun 2007. Awalnya dari privat, kemudian menyewa tempat kursus yang berjalan baru setahun ini,” jelas Duta Muda ASEAN-Indonesia 2007 ini.
Herpin mengaku mengawali usaha kursus bahasa ini, dia berinvestasi dengan empat temannya. Tapi kini yang tersisa hanya ia dan seorang temannya. Herpin menamakan tempat kursusnya ini “Hikari”. Namanya diambil dari bahasa Jepang yang artinya cahaya. “Ilmu itu cahaya, yang bisa mencerahkan orang dan masa depannya,” ujar dara yang tahun ini mendapat beasiswa sekolah S2 di Jepang.
Kini Hikari menjadi salah satu tempat kursus bahasa yang cukup pesat perkembanganya di Bandung. Meskipun baru berdiri, Hikari sudah membuka kursus di lokasi Bojongsoang, Jl Surapati, dan Antapani, dengan jumlah peserta sekira 400 orang. Rencananya, Herpin akan melebarkan usaha kursusnya ini di kawasan Jabodetabek dan Surabaya serta akan didaftarkan menjadi usaha franchise. Selain bahasa Jepang dan Inggris, kursus miliknya ini menawarkan program bahasa Perancis, Jerman, Arab, Korea, Belanda, dan Mandarin. Pengajarnya rata-rata bekerja secara part time.
Saat disinggung seputar pergaulan remaja dan Herpin berkomentar dengan santai. “Saya tetap gaul, kok. Nggak masalah dengan teman-teman lainnya. Tapi kalau ke mall, saya jarang. Setiap orang punya selera hiburan masing-masing. Bagi saya mengajar, baca al-Qur’an, shalat, atau mengaji, bisa menghibur juga,” kata lajang yang suka olahraga pagi ini.
Usia Herpin terbilang masih muda. Tapi dia pun sudah memikirkan masa depannya. Tak hanya konsisten dalam berwirausaha dalam bidang kursus bahasa, tetapi juga pilihan calon pendampingnya kelak. “Yang pasti, saya yakin apa yang diberikan Allah. Saya tidak neko-neko dan parameter utamanya seiman dengan saya. Saya sih pengin yang bisa membimbing. Ya itu kepikiran juga karena umurnya sudah waktunya,” jelas Herpin sedikit malu-malu.
http://www.alifmagz.com/2010/03/24/herpin-dwijayanti-pengusaha-muda-sukses-dengan-modal-awal-300-ribu/
“Mungkin saya cenderung orang yang akademis, ya. Tapi saya juga gaul dan aktif berorganisasi. Orangtua saya memang mendidik saya ketat dan disiplin. Saya juga banyak belajar dari luar. Saya juga senang mengenal momen atau kegiatan islami. Kalau belajar bisnis, saya berusaha mencontoh Rasulullah dalam berwirausaha,” ujar kelahiran Depok 8 April 1986 ini.
Berkat mau belajar dari mana saja, Herpin pun ingin mewujudkan cita-citanya sebagai pengusaha. Kebetulan Herpin sangat meminati bidang bahasa. Herpin aktif menguasai bahasa Inggris dan Jepang dan pasif dalam berbahasa Perancis, Arab, dan Jerman. Karena itulah dia memutuskan untuk berwirausaha dengan membuka kursus bahasa.
Herpin memang punya bekal penguasaan bahasa sebelum dia menjadi mahasiswa STT Telkom. Sewaktu SMA, dia terpilih menjadi peserta pertukaran pelajar ke Jepang [2005-2006]. Dia pun beberapa kali mengikuti debat dan pidato dalam bahasa Inggris. Pengalaman tersebut menjadi bekalnya untuk mengajar kursus bahasa di sebuah lembaga. Karena lembaga ini tutup, Herpin pun nekat membuka tempat kursus sendiri dengan modal pas-pasan. “Modal awalnya hanya 300 ribu rupiah dari tabungan sendiri. Alhamdulillah, Allah memberi kelancaran mendapatkan modal tambahan dari hadiah lomba-lomba. Saya membuka kursus mulai tahun 2007. Awalnya dari privat, kemudian menyewa tempat kursus yang berjalan baru setahun ini,” jelas Duta Muda ASEAN-Indonesia 2007 ini.
Herpin mengaku mengawali usaha kursus bahasa ini, dia berinvestasi dengan empat temannya. Tapi kini yang tersisa hanya ia dan seorang temannya. Herpin menamakan tempat kursusnya ini “Hikari”. Namanya diambil dari bahasa Jepang yang artinya cahaya. “Ilmu itu cahaya, yang bisa mencerahkan orang dan masa depannya,” ujar dara yang tahun ini mendapat beasiswa sekolah S2 di Jepang.
Kini Hikari menjadi salah satu tempat kursus bahasa yang cukup pesat perkembanganya di Bandung. Meskipun baru berdiri, Hikari sudah membuka kursus di lokasi Bojongsoang, Jl Surapati, dan Antapani, dengan jumlah peserta sekira 400 orang. Rencananya, Herpin akan melebarkan usaha kursusnya ini di kawasan Jabodetabek dan Surabaya serta akan didaftarkan menjadi usaha franchise. Selain bahasa Jepang dan Inggris, kursus miliknya ini menawarkan program bahasa Perancis, Jerman, Arab, Korea, Belanda, dan Mandarin. Pengajarnya rata-rata bekerja secara part time.
Saat disinggung seputar pergaulan remaja dan Herpin berkomentar dengan santai. “Saya tetap gaul, kok. Nggak masalah dengan teman-teman lainnya. Tapi kalau ke mall, saya jarang. Setiap orang punya selera hiburan masing-masing. Bagi saya mengajar, baca al-Qur’an, shalat, atau mengaji, bisa menghibur juga,” kata lajang yang suka olahraga pagi ini.
Usia Herpin terbilang masih muda. Tapi dia pun sudah memikirkan masa depannya. Tak hanya konsisten dalam berwirausaha dalam bidang kursus bahasa, tetapi juga pilihan calon pendampingnya kelak. “Yang pasti, saya yakin apa yang diberikan Allah. Saya tidak neko-neko dan parameter utamanya seiman dengan saya. Saya sih pengin yang bisa membimbing. Ya itu kepikiran juga karena umurnya sudah waktunya,” jelas Herpin sedikit malu-malu.
http://www.alifmagz.com/2010/03/24/herpin-dwijayanti-pengusaha-muda-sukses-dengan-modal-awal-300-ribu/
Aburizal Bakrie
Mantan Ketua Umum Kadin Indonesia Aburizal Bakrie menjadi salah satu kandidat calon presiden dalam Konvensi Partai Golkar lalu. Putera sulung pengusaha H Achmad Bakrie kelahiran Jakarta 15 November 1946 ini pada awal pencalonan didukung tidak kurang dari ketiga ormas Trikarya Golkar (SOKSI, Kosgoro, dan MKGR).
Bos Bakrie Group ini hingga kini tetap eksis dalam dunia usaha. Ia salah satu dari konglomerat yang mampu bertahan dari badai ekonomi yang melanda negeri ini.
Jabatan Ketua Umum Kadin Indonesia yang dipangkunya sejak 1994 hingga 2004, telah mengantarnya untuk berkutat pada persoalan-persoalan nasional yang lebih besar daripada persoalan-persoalan yang dialami perusahaannya sendiri.
Tentang perekonomian nasional, menurutnya, bisa tumbuh lebih cepat dibandingkan sekarang bila pemerintah lebih serius mengembangkan potensi pasar domestik sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Ekonomi Indonesia sudah ada perbaikan dan kemajuan, tapi ekonomi kita bisa tumbuh lebih tinggi dari 3,5 persen dengan dukungan ekonomi domestik yang lebih kuat. "Kebijakan memperkuat ekonomi domestik memiliki nilai sangat strategis bagi pemulihan ekonomi," ujarnya di Jakarta.
Bio Data
Nama :
Aburizal Bakrie
Lahir :
Jakarta 15 November 1946
Agama :
Islam
Pendidikan:
S1 Jurusan Elektro ITB tahun 1973.
Ayah:
H Achmad Bakrie
Perusahaan:
Bakrie Group
http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/06/18/nrs,20040618-01,id.html
Bos Bakrie Group ini hingga kini tetap eksis dalam dunia usaha. Ia salah satu dari konglomerat yang mampu bertahan dari badai ekonomi yang melanda negeri ini.
Jabatan Ketua Umum Kadin Indonesia yang dipangkunya sejak 1994 hingga 2004, telah mengantarnya untuk berkutat pada persoalan-persoalan nasional yang lebih besar daripada persoalan-persoalan yang dialami perusahaannya sendiri.
Tentang perekonomian nasional, menurutnya, bisa tumbuh lebih cepat dibandingkan sekarang bila pemerintah lebih serius mengembangkan potensi pasar domestik sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Ekonomi Indonesia sudah ada perbaikan dan kemajuan, tapi ekonomi kita bisa tumbuh lebih tinggi dari 3,5 persen dengan dukungan ekonomi domestik yang lebih kuat. "Kebijakan memperkuat ekonomi domestik memiliki nilai sangat strategis bagi pemulihan ekonomi," ujarnya di Jakarta.
Bio Data
Nama :
Aburizal Bakrie
Lahir :
Jakarta 15 November 1946
Agama :
Islam
Pendidikan:
S1 Jurusan Elektro ITB tahun 1973.
Ayah:
H Achmad Bakrie
Perusahaan:
Bakrie Group
http://www.tempointeraktif.com/hg/narasi/2004/06/18/nrs,20040618-01,id.html
H.Bob Sadino
Pengusaha Berpakaian Dinas Celana Pendek
Pria berpakaian ”dinas” celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.
Titik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.
Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.
Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.
Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.
”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.
Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.
Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam
Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)
Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)
Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981
Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618
http://pengusahamuda.wordpress.com/biografi/
Pria berpakaian ”dinas” celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.
Titik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.
Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.
Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.
Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.
Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.
Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.
Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.
Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.
Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.
Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.
Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.
Anak Guru
Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.
Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.
Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ”Hati saya ikut hancur,” kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.”
Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ”warung” shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.
”Saya hidup dari fantasi,” kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ”Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,” kata Bob.
Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.
Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya.
Nama :
Bob Sadino
Lahir :
Tanjungkarang, Lampung, 9 Maret 1933
Agama :
Islam
Pendidikan :
-SD, Yogyakarta (1947)
-SMP, Jakarta (1950)
-SMA, Jakarta (1953)
Karir :
-Karyawan Unilever (1954-1955)
-Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
-Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
-Dirut PT Boga Catur Rata
-PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
-PT Kem Farms (kebun sayur)
Alamat Rumah:
Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981
Alamat Kantor :
Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618
http://pengusahamuda.wordpress.com/biografi/
Putera Sampoerna
Penjemput Pasar Masa Depan
Putera Sampoerna, mengguncang dunia bisnis Indonesia dengan menjual seluruh saham keluarganya di PT HM Sampoerna senilai Rp18,5 triliun, pada saat kinerjanya baik. Generasi ketiga keluarga Sampoerna yang belakangan bertindak sebagai CEO Sampoerna Strategic, ini memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan.Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya. Dia mampu membuat sensasi (tapi terukur)dalam dunia bisnis. Sehingga pantas saja Warta Ekonomi menobatkan putra Liem Swie Ling (Aga Sampoerna) ini sebagai salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005. Sebelumnya, majalah Forbes menempatkannya dalam peringkat ke-13 Southeast Asia’s 40 Richest 2004.
Putera Sampoerna, pengusaha Indonesia kelahiran Schidam, Belanda, 13 Oktober 1947. Dia generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Adalah kakeknya Liem Seeng Tee yang mendirikan perusahaan rokok Sampoerna. Putera merupakan presiden direktur ketiga perusahaan rokok PT. HM Sampoerna itu. Dia menggantikan ayahnya Aga Sampoerna.
Kemudian, pada tahun 2000, Putera mengestafetkan kepemimpinan operasional perusahaan (presiden direktur) kepada anaknya, Michael Sampoerna. Dia sendiri duduk sebagai Presiden Komisaris PT HM Sampoerna Tbk, sampai saham keluarga Sampoerna (40%) di perusahaan yang sudah go public itu dijual kepada Philip Morris International, Maret 2005, senilai Rp18,5 triliun.
Pria penggemar angka sembilan, lulusan Diocesan Boys School, Hong Kong, dan Carey Grammar High School, Melbourne, serta University of Houston, Texas, AS, itu sebelum memimpin PT HM Sampoerna, lebih dulu berkiprah di sebuah perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia. Kala itu, dia bermukim di Singapura bersama isteri tercintanya, Katie, keturunan Tionghoa warga Amerika Serikat.
Dia mulai bergabung dalam operasional PT. HM Sampoerna pada 1980. Enam tahun kemudian, tepatnya 1986, Putera dinobatkan menduduki tampuk kepemimpinan operasional PT HAM Sampoerna sebagai CEO (chief executive officer) menggantikani ayahnya, Aga Sampoerna.
Namun ruh kepemimpinan masih saja melekat pada ayahnya. Baru setelah ayahnya meninggal pada 1994, Putera benar-benar mengaktualisasikan kapasitas kepemimpinan dan naluri bisnisnya secara penuh. Dia pun merekrut profesional dalam negeri dan mancanegara untuk mendampinginya mengembangkan dan menggenjot kinerja perusahaan.
Sungguh, perusahaan keluarga ini dikelola secara profesional dengan dukungan manajer profesional. Perusahaan ini juga go public, sahamnya menjadi unggulan di bursa efek Jakarta dan Surabaya. Ibarat sebuah kapal yang berlayar di samudera luas berombak besar, PT HM Sampoerna berhasil mengarunginya dengan berbagai kiat dan inovasi kreatif.
Tidak hanya gemilang dalam melakukan inovasi produk inti bisnisnya, yakni rokok, namun juga berhasil mengespansi peluang bisnis di segmen usaha lain, di antaranya dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan sempat mendirikan Bank Sampoerna akhir 1980-an.
Di bisnis rokok, HM Sampoerna adalah pelopor produk mild di tanah air, yakni rokok rendah tar dan nikotin. Pada 1990-an, itu Putera Sampoerna dengan kreatif mengenalkan produk rokok terbaru: A Mild. Kala itu, Putera meluncurkan A Mild sebagai rokok rendah nikotin dan “taste to the future”, di tengah ramainya pasar rokok kretek. Kemudian perusahaan rokok lain mengikutinya.
Dia memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan. Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya. Dia mampu membuat sensasi (tapi terukur)dalam dunia bisnis. Langkahnya yang paling sensasional sepanjang sejarah sejak HM Sampoerna berdiri 1913 adalah keputusannya menjual seluruh saham keluarga Sampoerna di PT HM Sampoerna Tbk (40%) ke Philip Morris International, Maret 2005.
Keputusan itu sangat mengejutkan pelaku bisnis lainya. Sebab, kinerja HM Sampoerna kala itu (2004) dalam posisi sangat baik dengan berhasil memperoleh pendapatan bersih Rp15 triliun dengan nilai produksi 41,2 miliar batang. Dalam posisi ketiga perusahaan rokok yang menguasai pasar, yakni menguasai 19,4% pangsa pasar rokok di Indonesia, setelah Gudang Garam dan Djarum.
Mengapa Putera melepas perusahaan keluarga yang sudah berumur lebih dari 90 tahun ini? Itu pertanyaan yang muncul di tengah pelaku bisnis dan publik kala itu.
Belakangan publik memahami visi Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Majalah Warta Ekonomi ini ((Warta Ekonomi 28 Desember 2005). Dia melihat masa depan industri rokok di Indonesia akan makin sulit berkembang. Dia pun ingin menjemput pasar masa depan yang hanya dapat diraihnya dengan langkah kriatif dan revolusioner dalam bisnisnya. Secara revolusioner dia mengubah bisnis intinya dari bisnis rokok ke agroindustri dan infrastruktur.
Hal ini terungkap dari langkah-langkahnya setelah enam bulan melepas saham di PT HM Sampoerna. Juga terungkap dari ucapan Angky Camaro, orang kepercayaan Putera: “Arahnya memang ke infrastruktur dan agroindustri.”
Terakhir, di bawah bendera PT Sampoerna Strategic dia sempat berniat mengakuisisi PT Kiani Kertas, namun untuk sementara dia menolak melanjutkan negosiasi transaksi lantaran persyaratan yang diajukan Bank Mandiri dinilai tak sepadan. Dia pun dikabarkan akan memasuki bisnis jalan tol, jika faktor birokrasi dan kondisi sosial politik kondusif.
Nama
Putera Sampoerna
Lahir
Schidam, Belanda, 13 Oktober 1947
Isteri:
Katie
Anak:
Michael Sampoerna
Ayah:
Aga Sampoerna (Liem Swie Ling)
Kakek:
Liem Seeng Tee
Pekerjaan
– CEO PT Sampoerna Strategic
– Presiden Komisaris PT HM Sampoerna
Pendidikan
– Diocesan Boys School, Hong Kong
– Carey Grammar High School, Melbourne
– University of Houston, Texas, AS
http://pengusahamuda.wordpress.com/biografi/
Langganan:
Postingan (Atom)